Kamis, 07 Juli 2011
Zeni berkisah, ia dan suaminya sama-sama berasal dari Lamongan. Ketika tinggal di Surabaya sejak 1997, mereka berjualan masakan khas daerahnya. “Awalnya cuma jual tahu campur. Tempat jualnya juga hanya di kaki lima,” kata Zeni yang awalnya berjualan bersama suaminya. Butuh perjuangan agar usahanya berhasil. Namun kini, warung kaki limanya tak lagi mampu menampung pelanggan.
“Di sana, kapasitas terbatas, cuma mampu menampung 20 orang. Sejak tahun 2008, kami sewa kios di sini. Tempatnya lebih luas, bisa menampung 50 orang, parkirnya juga luas,” imbuh Suef.
Di tempat baru, Zeni dan Suef menambah lagi menu soto dan tahu telur. Harganya Rp 9 ribu. Namun, yang paling laku tetap tahu campur dan lontong kikil. Zeni pun tak keberatan membagi resepnya. Yang penting, kikil direbus sampai empuk. “Tahu campurnya saya pakai kikil bagian otot sapi, tapi untuk lontong kikil, bahannya khusus kaki sapi.”
Saat merebus kikil, sudah dibumbui ketumbar, jinten, kunyit, serai, laos, jahe. Setelah empuk, air rebusan dibuang. Kemudian, dibumbui lagi. Untuk tahu campur, ditambah petis dan gula, sedangkan lontong kikil ditambahi bawang merah, bawang putih, dan pala.
Di hari-hari biasa, Zeni bisa menjual 200-an porsi tahu campur dan 100-an porsi lontong kikil. Hari libur dan Minggu, jumlahnya sudah pasti bertambah. Apalagi saat puasa, bisa dua kali lipat hari biasa. Tentu saja, Zeni sudah tak bisa lagi turun tangan sendiri. Ia dan suaminya, kini tinggal mengawasi lima karyawannya. Tapi, untuk mengolah masakan, mereka tetap meraciknya sendiri.
“Selain warga Surabaya, banyak tamu dari luar kota. Uniknya, banyak juga yang sekali jajan langsung menyantap tiga menu sekaligus, tahu campur, lontong kikil, dan soto tanpa nasi. Katanya, semuanya enak,” papar Zeni sambil tersenyum.
Mereka buka pukul 04.00 – 23.00. Selain banyak yang menyantap di warungnya, “Banyak juga yang membungkus sampai 15 porsi. Kami juga sering diminta menyediakan katering untuk pesta pernikahan dan berbagai acara kantor. Kebetulan, lokasi jualan kami tak jauh dari kawasan industri,” beber Zeni.

Kamis, 07 Juli 2011 by alaysdy · 0
Selasa, 05 Juli 2011

Soto ayam yang kuahnya panas dan gurih rasanya bisa jadi penyegar siang ini. Racikan soto dari sebuah kabupaten di Jawa Timur ini rasanya memang spesial. Isinya komplet, kuahnnya kekuningan wangi plus taburan bumbu yang bikin makin enak saja!
Soto memang sangat banyak jenisnya di Indonesia. Hampir tiap daerah punya gaya racikan yang berbeda. Salah satu soto yang berasal dari Lamongan Jawa Timur sangat tersohor lezatnya hingga ke berbagai daerah luar Jawa.
Kuah soto Lamongan ini bening kekuningan dengan aroma bawang yang kuat. Isinya berupa suwiran daging ayam rebus, irisan kol, tomat, daun bawang, suun dan irisan telur. Yang menjadi cirri khas justru topping alias taburannya yang berupa bubuk kekuningan. Bubuk ini dibuat dari kerupuk udang, bawang merah goreng, bawang putih goreng yang dihaluskan.
Rahasia kelezatan soto ini terletak pada kuah atau kaldunya. Ada yang memakai kaldu ayam asli, ada pula yang memberi tambahan udang sehingga rasanya sangat gurih. Untuk isian soto, tidak terbatas pada dagingnya saja, beberapa penjual soto menambahkan sayap ayam, cakar ayam, hati dan ampela bahkan kulit ayam. Jadi tinggal dipilih yang disuka.
Penjual soto Lamongan asli biasanya memakai gerobak dengan panci khusus yang mulutnya lebar. Panci ini berisi kaldu dan terus-menerus dipanaskan. Bahan-bahan yang lainnya disusun di lemari yang ada di sisi gerobak. Ada juga yang memakai nama Ambengan, tempat soto Lamongan tersohor di Surabaya.
Untuk menyantap soto Lamongan, setelah diberi topping bubuk, bisa dikucuri air jeruk nipis, kecap manis plus sambal rawit merah jika suka. Aduk sampai rata dan hirup kuahnya yang mulai kental karena terkena bubuk. Rasanya yang gurih, sedikit asam dan manis menjadi ciri khas soto ini. Hmmm..dijamin keringatpun akan mulai berlelehan karena kuahnya yang panas mengepul!
Kalau memutuskan ingin menyegarkan badan dengan semangkuk soto Lamongan, mampir saja ke salah satu rumah makan ini. Harga soto Lamongan berkisar dari Rp. 8.000,00 – Rp. 15.000,00.
Selasa, 05 Juli 2011 by alaysdy · 0
Jumat, 23 Oktober 2009
Jumat, 23 Oktober 2009 by alaysdy · 0
Sabtu, 17 Oktober 2009
'''Wingko''', which is sometimes called '''Wingko Babat''', is a traditional food from [[- Indonesia]].
It is a kind of cake made mainly of [[coconut]] and other ingredients. Wingko is popular especially along the north coast of [[Java island]]. It is sold mostly by peddlers on trains, at [[bus]] stations, [[train]] stations, or in the producer’s own shop. This might explain why it's very popular in Java to use wingko as a gift to families upon returning from traveling.
Wingko is typically a round, almost hard coconut cake that is typically served in warm, small pieces. Wingko is sold either in the form of a large, plate-sized cake or small, [[paper]] wrapped cakes. It's delicious due to the combined sweetness of [[sugar]] and the unique, fresh taste of crispy coconut. The price varies, depending on where it's sold. The more famous the brand of cake, the more expensive the cake. Your bargaining skills might lower the price a little.
The most famous wingko is made in Babat. As its full name, wingko babat, suggests, wingko actually originated in Babat, a small regency in Lamongan, a municipality in [[East Java]].Babat is near the border with Bojonegoro, another [[municipality]] in East Java which is now famous for its [[teak]] wood and recently discovered [[Petroleum|oil]] field.
In Babat, which is only a small town, wingko plays a big role in its economy. There are many wingko factories in that city which employ a large number of workers. The factories take in a large number of coconut fruit from the neighbouring municipalities.
Today wingko is a famous food in both Babat with various brands and sizes of wingko for sale. Most wingko factories are still owned by Indonesian Chinese and some still use [[Chinese language]] names for their brands.
[[id:Wingko babat]]
Sabtu, 17 Oktober 2009 by alaysdy · 0



